Sunday 8 February 2026 - 10:56
Ketika Olimpiade Berubah Menjadi Panggung Kecaman terhadap Amerika dan Israel

Hawzah/ Suara sorakan bernada hujatan yang menggema di Stadion San Siro bersamaan dengan pembukaan Olimpiade Musim Dingin 2026 Milan–Cortina di Italia berubah menjadi aksi protes terbuka terhadap perang, pendudukan, dan impunitas yang selama ini dipromosikan oleh Washington dan Tel Aviv.

Berita Hawzah – Gelombang hujan sorakan yang menggema di Stadion San Siro, bersamaan dengan upacara pembukaan Olimpiade Musim Dingin Milan–Cortina di Italia, bukan sekadar reaksi emosional atau peristiwa spontan yang berlalu begitu saja. Suara‑suara itu mencerminkan sebuah sikap politik yang sadar dan kolektif; sebuah sikap yang menantang hegemoni, perang, dan impunitas kekuatan‑kekuatan arogan dunia, khususnya Amerika Serikat dan Israel.

Tampilan gambar JD Vance, Wakil Presiden Amerika Serikat, di layar raksasa stadion langsung disambut dengan gelombang hujan sorakan yang jelas dan berkepanjangan. Meski reaksi itu kemudian sebagian diredam melalui intervensi teknis media, pesan yang ingin disampaikan tetap tersampaikan dengan gamblang. Protes tersebut mencerminkan meningkatnya ketidakpuasan global terhadap kebijakan luar negeri Amerika, kebijakan yang dikenal dengan perang tanpa akhir, intervensi struktural, sanksi menyeluruh terhadap bangsa‑bangsa, serta pengabaian terang‑terangan terhadap hukum internasional.

Reaksi negatif terhadap delegasi Israel juga memiliki makna yang dalam. Di tengah berlanjutnya pembantaian di Gaza, kelanjutan pendudukan, dan kebijakan diskriminatif yang telah berulang kali dikecam para ahli hukum dan lembaga internasional, kehadiran Israel dalam sebuah panggung perayaan tampak tidak dapat diterima oleh opini publik dunia. Sorakan protes para penonton (yang hanya dapat ditutupi dengan menaikkan volume musik secara sengaja) menjadi tanda jelas dari ketidakpuasan tersebut.

Ekspresi keterkejutan Donald Trump terhadap reaksi itu justru menunjukkan betapa jauhnya para pemimpin rezim Barat dari realitas opini publik global. Narasi usang Amerika dan Israel yang menampilkan diri sebagai pembawa demokrasi dan nilai‑nilai universal kini runtuh di hadapan kenyataan telanjang berupa perang, pendudukan, pengusiran paksa, dan standar ganda.

Protes yang menggema di San Siro bukan ditujukan kepada bangsa‑bangsa, melainkan kepada pemerintah dan kebijakan yang mengorbankan hukum dan moral demi mempertahankan dominasi mereka atas dunia. Reaksi tersebut merupakan deklarasi penolakan terhadap klaim keunggulan moral dari pihak‑pihak yang menganggap diri mereka sebagai wasit dunia, namun secara sistematis menginjak martabat manusia.

Bahkan gemerlap panggung Olimpiade tidak mampu membungkam suara nurani bangsa‑bangsa. Pesan yang keluar dari San Siro sangat jelas: kejahatan kekuatan arogan dunia, betapapun dibungkus dengan pesta, hiburan, dan pertunjukan, tidak lagi dapat dinormalisasi.

Mustafa Milani Amin

Tags

Your Comment

You are replying to: .
captcha